Andi Arief Tegaskan KLB Demokrat Harus Seizin SBY, Kalau Tidak Berarti Kerumunan Ilegal | DURHAKA! Pelajar Jebolan The Voice Indonesia Pukul dan Tendang Kepala Ibunya, Video Tersebar | PPKM Level 4 Diperpanjang, Polres Klaten Mulai Gencar Penyemprotan Disinfektan di Jalanan | Sedang Berlangsung Live Streaming Final Thailand Open 2021 di TVRI, Praveen/Melati Vs Ganda Thailand | Pemerintah Berutang Rp 96,5 Triliun ke Pertamina | Sinopsis Ikatan Cinta RCTI Pukul 19.45 WIB Andin dan Al Mencari Rahasia Elsa | Rencana Pemerintah Tarik Pajak Bahan Pokok, Kamrussamad: Kami akan Menolak | Di Dalam Tanah Sudah Mirip Bubur, Peringatan Bupati Batang: Waspada Warga Desa Jolosekti | Pembagian BLT 600 Ribu Ricuh: Mobil Wakapolres Dibakar hingga Lempar Batu & Kayu ke Polisi | Rohmad Tidak Bisa Cegah PSK Eks SK Sunan Kuning Semarang Buka Praktik Prostitusi Online di Hotel | 7 Tahun Keluarga Mencari Keberadaan Sidik Bos Meubel, Mayat Ditemukan Dalam Kondisi Tulang Belulang | Seusai Bantai Warga, Kelompok Ali Kalora Cs Diburu, Polri Sudah Tahu Titik Lokasi Pelarian | Jadwal Liga 1 2020 Pekan Ini, 3 Tim Promosi Langsung Melawan Tim Raksasa dan Juara Bertahan | Jadi Korban Gempa Mamuju, 1 Keluarga Asal Sragen Dapat Bantuan Dinsos | Video Atap Aula SMKN 1 Miri Sragen Ambruk Timpa 22 Siswa | Emak-emak Jadi Jutawan Mendadak di Kebumen, Modalnya Janji Investasi Katering Abal-abal | Pelaku Pembakaran Mobil Alphard Via Vallen Diduga Pura-pura Gila Pas Diperiksa Polisi | Hotline Semarang: Awasi Komponen Lampu PJU dari Pengrusakan | Seorang Imam Masjid di Kongo Tewas Ditembak saat Pulang dari Salat Isya, Kasus Kedua dalam Sebulan | Korban Kedua Longsor Kebumen Ditemukan, Doniatun Sudah Meninggal Dunia, Tinggal 1 Orang | Sebut KPK Pantas Dibubarkan, Arief Poyuono: Anggaran Lebih Baik Dialihkan ke Kejagung dan Polri | Chord Kunci Gitar Bintang 14 hari Kangen Band | Kapolda Aceh: Kalau Mau Hidup Normal, Ayo Divaksin | Pasien Positif Corona Ditelantarkan Dokter 14 Hari di Lapangan Tennis | Jadwal Final Denmark Open 2021, Duel Paling Ditunggu Kento Momota Vs Viktor Axelsen | Ketua MUI Jateng Menangis Lihat Bupati Blora Beri Tumpeng ke Penggantinya: Ini Harus Diviralkan | Budhi Sarwono Bawa Banjarnegara Selesaikan Infrastruktur Lebih Cepat | S Tewas Dini Hari dengan Luka Tembak di Ketiak, Pelaku Oknum Anggota DPRD, Ini Pemicunya | Aku Ndak Takut Mati, Lajulah! Kata Babysitter saat Pisau Penculik Menempel di Lehernya | Messi Temui Suarez Jelang Laga Pamungkas La Liga, Apa yang Mereka Bahas? | Tumbuhkan Semangat Literasi Tingkat SLB, Disdik Jateng Gelar Lomba di Batang | Para Pedagang Sudah Aktif Jualan, Dewan Minta Pasar Cinde Kota Tegal Segera Diresmikan | PREDIKSI Susunan Pemain Persija vs Persib Final Piala Menpora, Live Streaming Indosiar Malam Ini | Jembatan Kedunglegok Mulai Difungsikan, Warga Purbalingga Tak Lagi Naik Perahu Seberangi Sungai | Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini Selasa 25 Februari 2020: Libra, Jangan Ciptakan Banyak Luka | Digosipkan jadi Istri Uje, Oki Setiana Dewi Jujur soal Hubungannya Kini dengan Umi Pipik | Pamer Foto Bareng Lee Min Ho, Annisa Pohan Bikin Ashanty Ngiri | Vicky Prasetyo Ulang Tahun ke-37, Kalina Oktarani Hadiahi Mic Seharga Puluhan Juta: Buat Manggung | Deklarasi Darurat Covid-19 di Jepang Diperpanjang Sampai 31 Mei, Ditambah Aichi dan Fukuoka | Pohon Sengon Hutan 20 Meter Timpa Mobil dan Tembok Halaman Rumah Warga Gunung Sawo Semarang | Rocky Gerung Akui Sediakan Alat Ibadah Semua Agama di Rumahnya | Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Guru | Nonton TV Online Ini Link Live Streaming Mola TV Brighton Vs Manchester United Malam Ini | Diduga Jadi Tempat Mesum, Wisata Pantai Ilegal di Tegal Ini Jadi Favorit Dikunjungi Muda-mudi | Pengajuan Anggaran Fantastis Kemenhan untuk Alutsista, Pengamat: Jangan Beli Barang Bekas | Ini Curhatan Dul dan Alghazali Melihat Ahmad Dhani dan Maia Estianty 'Mesra' | Chord Kunci Gitar Terima Kasih Guruku | Ingat Mbak Pur, Ikon ART di Sinetron Lawas? Artis Cantik Revalina S Tulis Kisahnya: Bikin Meleleh | Jadwal Samsat Online Keliling Semarang Hari Ini Senin 24 Februari, Buka di Simpanglima dan Sompok | Natasha Wilona Main Sinetron Lagi Bareng Mantan Pacar Stefan William: Banyak yang Kangen | Detik-detik Pikap L300 Hadang Bus Rosalia Indah Ngeblong, Keduanya Tak Mau Ngalah | Oknum Polisi yang Digerebek Warga Bersama Istri Orang Tengah Malam Ternyata Jabat Wakapolsek | Gen Halilintar Hadiri Sidang Kasus Dugaan Pelanggaran Hak Cipta, Thariq Halilintar Jadi Saksi | Muncul Virus Baru dari Babi di China, Peneliti Khawatir Menginfeksi Manusia hingga Jadi Pandemi | Siswi SMP Ketagihan Layani 25 Pria Hidung Belang Rela Tak Dibayar, Tak Dapat Kasih Sayang di Rumah | Di Hadapan Ratusan Sosialita, Donini Launching Parfum Unik yang Kemasannya Dilapisi Kulit Asli | USM dan Polda Jateng Gelar Seminar Kebangsaan bagi Mahasiswa | Bupati Wihaji Ajak Warga Gringsing Bersiap Sambut KIT Batang | Video Ratusan Pekerja Geruduk PT GS Battery Semarang | Chord Kunci Gitar Payung Teduh Berdua Saja | Usut Kaburnya Rachel Vennya dari Wisma Atlet, Kapolda: Kami akan Bongkar Mafia Karantina | Mobil Waka Polres Dibakar Massa Saat Kerusuhan Pembagian BLT Corona | Live Streaming Levante vs Real Madrid Liga Spanyol Malam Ini Pukul 03.00 WIB | Kunjungi Semarang, Program ShopeePay Semangat Usaha Lokal Ajak Pegiat UKM Lokal Kembangkan Bisnisnya | Ambulans Ditabrak Mobil Box, Jenazah Terpental Ke Jalan | Prakiraan Cuaca Wonosobo Hari Ini Kamis 24 Desember 2020 | Mobil Mewah Miliknya Dibakar Orang, Via Vallen Masih Bersyukur Rumahnya Tak Ikut Hangus | Jin BTS Akan Nyanyikan OST Utama untuk K-Drama Terbaru Berjudul Jirisan | Hasil Liga Inggris Tadi Malam: Manchester City Raih Poin Penuh Seusai Taklukan Leicester City | Aksi Kapolresta Banyumas, Borong Sisa Makanan Pedagang yang Masih Buka Saat Jam Malam | Info Gempa Hari Ini: Gempa Magnitudo 5,8 Guncang Teluk Tomini Sulteng, Tak Berpotensi Tsunami | Shin Tae-yong Bakal Diperkenalkan PSSI Hari Ini, Ditunda 28 Desember, Berikut Alasan Cucu Soemantri | Alhamdulillah, Bantuan Sosial Tunai Diperpanjang hingga Juni 2021 | Overthinking Pengaruhi Kesehatan Mental Seseorang, Yuki Kato Pernah Mengalaminya | Memasuki New Normal, Konsumsi BBM di Jawa Tengah Mulai Naik | Batas Akhir Hari Ini, Calon Perseorangan Maju PIlwakot Semarang Nihil, Lawan Kotak Kosong Menguat | Pemprov Sebut 60 Persen Ruang Isolasi di Jateng Masih Tersedia | 247 Kades Asal Kabupaten Pekalongan Digembleng di IPDN | Mau Wawancara Ahok, Daniel Mananta Diminta Baca Buku Panggil Saya BTP | Usai Libur Lebaran, Klaster Mulai Bermunculan, Jumlah Pasien Covid-19 di DKI Tembus 10.000 Orang | Kekurangan Banyak Guru, PGRI Jateng Harap Tes CPNS Diselenggarakan 2 Kali di Tahun 2020 | 2 Kali Coba Mencuri di Alfamart Tapi Gagal, Ternyata Pelaku Oknum Karyawan Indomaret, Ini Modusnya | Persijap Jepara Datangkan 2 Pemain Eks Borneo FC Jelang Liga 2 2021 | Pembina Pramuka Ditetapkan Tersangka Tewasnya Sejumlah Siswa SMPN 1 Turi | Chord Kunci Gitar Medina Maher Zain | Masa Tanggap Darurat Covid-19 di Banyumas Diperpanjang Satu Bulan Lagi | Sesaat Lagi Olympiacos Vs Arsenal, Ini Link Live Steaming Laga Berat Bagi Pasukan Mikel Arteta | Apakah Yosef dan Mimin Jujur Kepada Polisi? Bareskrim Periksa Tes Kebohongan | Video Belasan Organisasi Kepemudaan di Solo Bagikan Bunga Kecam Aksi Terorisme | Sepupu BCL Ungkap Deretan Aktivitas Ashraf Sinclair Sebelum Meninggal: Gak Tidur Nunggu Istri Pulang | Humas Pemkab Batang Belajar Publish Potensi Daerah ke Pemkot Mataram | Klasemen Proliga 2020 Jelang Putaran Kedua, Sang Juara Bertahan Tak Mampu Pertahankan Posisi Puncak | Rindu Bertemu Fans, Siwon: Aku Berharap Kalian Sehat dan Kuat | Wali Kota Pekalongan Bikin Gerakan Ayo Jajan, Larisi Dagangan PKL Kuliner PPKM Level 2 | WA GB Trending Twitter, Netizen Resah Pesan Whatsapp yang Sudah Dihapus Bisa Dibaca | Malam Pertama, Pengantin Wanita Tewas Setelah Dicium di Bagian Lehernya | Peruntungan Shio Besok Rabu 19 Februari 2020, Tahun Tikus Logam Imlek 2571 | Video Rekaman CCTV Pencuri Motor Beraksi Kurang dari 5 Detik | Tammy Abraham Ungkap Sindiran Mourinho yang Membuatnya Bergegas Tinggalkan Chelsea ke AS Roma | Lihat Temannya Diperkosa, Dua Siswi SMA Ini Malah Merekam, Lalu Bagikan Video di Grup WhatsApp |

Anda sedang membaca Andi Arief Tegaskan KLB Demokrat Harus Seizin SBY, Kalau Tidak Berarti Kerumunan Ilegal - JATENGKOTA mohon pertahankan, kami selalu update berita terbaru hari ini singkat, padat dan terpercaya.

Andi Arief Tegaskan KLB Demokrat Harus Seizin SBY, Kalau Tidak Berarti Kerumunan Ilegal


Oleh : JATENGKOTA | on
Andi Arief Tegaskan KLB Demokrat Harus Seizin SBY, Kalau Tidak Berarti Kerumunan Ilegal

JATENGKOTA, JAKARTA - Dorongan untuk menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat semakin menguat digulirkan oleh para pendiri, senior dan organisasi sayap partai.

Mereka menganggap bahwa penyelenggaraan KLB tidak perlu mendapatkan persetujuan Ketua Majelis Tinggi Partai (MTP).

Elite Demokrat membantah hal tersebut. 

Kepala Bappilu Partai Demokrat Andi Arief menegaskan KLB hanya bisa digelar dengan restu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Ketua MTP.

"KLB harus dapat izin ketua Majelis Tinggi Partai dalam hal ini Pak SBY. Kalau tidak ada izin majelis tinggi KLB adalah kerumunan ilegal," kata Andi Arief, dikutip dari akun Twitter pribadinya @Andiarief_, Kamis (4/3/2021).

Andi menilai, saat ini negara turut diuji dengan adanya klaim KLB bakal digelar dalam waktu dekat.

"Klaim Jhoni Allen dkk mendapat dukungan negara diuji dalam praktik. Menpolhukam, Depkumham dan kepolisian apakah akan hormati AD ART Partai," ucapnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Angkatan Muda Demokrat (AMD), Ramli Batubara menegaskan KLB Partai Demokrat tidak harus mendapat persetujuan dari Majelis Tinggi Partai yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ramli menyebut, dalam AD/ART Partai Demokrat Bab II pasal 9 menyebut kewenangan Majelis Tinggi Partai hanya dapat meminta pelaksanaan Kongres Luar Biasa.

"Tidak ada kewenangan SBY menolak atau menyetujui KLB," kata Ramli kepada wartawan, Selasa (2/3/2021).

Selain itu, Ramli menilai jika Kongres ke-V Partai Demokrat cacat hukum karena telah melanggar Undang-Undang Nomor 2 tahun 2011 tentang Partai Politik.

Sebab, lanjutnya, perubahan AD/ART Partai Demokrat dibahas dalam Kongres ke-V pada tahun lalu. 

Padahal, tambah Ramli, sesuai dengan UU Partai Politik disebutkan dalam pasal 5 ayat (2) bahwa Perubahan AD dan ART sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan hasil forum tertinggi pengambilan keputusan Partai Politik.

Sementara, di dalam organisasi partai politik, kongres sendiri merupakan forum tertinggi untuk mengambil keputusan, termasuk mengubah AD/ART.

"Kongres V cacat hukum karena melanggar Undang-Undang partai politik," ucapnya.

Setelah dipecat oleh DPP Partai Demokrat, politikus senior Jhoni Allen Marbun akhirnya buka suara soal tuduhan kudeta di tubuh Partai Demokrat. 

Secara terang-terangan, Jhoni menyebut Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-lah yang melakukan kudeta di Partai Demokrat dengan merebut kepemimpinan Anas Urbaningrum. 

Jhoni buka suara melalui video berdurasi sembilan menit yang tersebar di media sosial. 

Video ini turut diunggah oleh akun Youtube Sidoel Jak. 

Dikutip Tribunnews.com pada Senin (11/3/2021), Jhoni mengatakan Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat pada 2021 akan membawa Partai Demokrat menjadi partai modern dan terbuka, bukan partai dinasti. 

Menurut Jhoni, Demokrat telah dianggap sebagai partai dinasti sejak 2013 saat SBY menjadi Ketua Umum dan putranya, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menjadi Sekjen melalui KLB.

"Ini baru pertama kali di Indonesia bahkan di dunia dimana pengurus partai politik, Partai Demokrat, bapaknya, SBY (menjadi) ketua umum dan anaknya (menjabat) Sekjen," kata Jhoni. 

Jhoni mengatakan, apa yang dilakukan SBY pada 2013 itu merupakan bentuk pengingkaran fakta sejarah lahirnya Partai Demokrat. 

Anggota DPR Partai Demokrat ini mengatakan, SBY tidak mengeluarkan keringat dalam pendirian Partai Demokrat pada 2004. 

Partai Demokrat berhasil lolos menjadi peserta Pemilu 2004, kata Jhoni, merupakan hasil kerja keras pendiri dan pengurus di seluruh Indonesia. 

"Demi Tuhan. Saya bersaksi bahwa SBY tidak berkeringat sama sekali, apalagi berdarah darah sebagaimana pernyataanya di berbagai kesempatan," ujarnya. 

Mantan Timses Anas Urbaningrum ini menyatakan SBY bergabung ke Demokrat setelah Demokrat lolos sebagai peserta Pemilu 2004. 

Saat itu, istri SBY, Ani Yudhoyono dimasukkan menjadi Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokkrat dan hanya menyumbang uang Rp 100 juta.

Jhoni mengungkap, SBY baru muncul di acara Partai Demokrat setelah mundur dari Kabinet Presiden Megawati. 

"Ini menegaskan bahwa SBY bukan pendiri Partai Demokrat," tegas Jhoni. 

Jhoni Sebut SBY yang Lakukan Kudeta
Jhoni kemudian melemparkan kalimat pertanyaan, siapa yang melakukan kudeta di Demokrat. 

Politikus asal dari Dapil Sumatera Utara ini menceritakan saat Anas Urbaningrum terpilih sebagai Ketua Umum Demokrat hasil kongres 2010. 

Dalam perjalanannya, Anas kemudian tersandung kasus hukum. 

Meski belum menjadi tersangka, lanjut Jhoni, SBY dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pembina kemudian mengambil kepemimpinan Partai Demokrat dengan membentuk Presidium.

"SBY selaku ketua depan pembina Partai Demokrat dan juga Presiden RI mengambil kekuasaan Partai Demokrat dengan membentuk Presidium dimana ketuanya adalah SBY, Wakil Ketua Anas Urbaningrum sehingga (Anas) tidak memiliki fungsi dalam menjalankan roda organisasi Partai Demokrat sebagai Ketua Umum. Inilah kudeta yang terjadi di Partai Demokrat," bebernya. 

Jhoni melanjutkan, setelah Anas Urbaningrum menjadi tersangka, digelar KLB pertama untuk memilih ketua umum guna melanjutkan sisa kepemimpinan Anas.

Menurut Jhoni, saat itu, SBY menyatakan hanya akan melanjutkan kepemimpinan Anas. 

Jhoni mengaku diperintah SBY untuk membujuk Marzuki Alie yang saat itu menjadi Ketua DPR untuk tidak maju menjadi calon ketua umum.

Kemudian di Kongres 2015, Jhoni menuding SBY melakukan rekayasa agar SBY menjadi calon tunggal, hingga akhirnya SBY terpilih sebagai Ketua Umum. 

Jhoni menyebut, SBY kembali melakukan rekayasa dalam Kongres di tahun 2020. 

"Pembahasan dan penetapan tata tertib acara tidak dilakukan dimana salah satun isinya membatas syarat dan tata cara pencalonan calon ketum. Selain itu tidak ada LPj dari Ketua," ujar Jhoni. 

Setelah itu, kata Jhoni, SBY mendesain para ketua DPD agar mendeklarasikan putranya, Agus Harimurti Yudhyono, sebagai calon ketua umum. 

"Itulah yang mereka sebut aklamasi. Makanya AHY berada di puncak gunung tetapi tidak pernah mendaki," kata Jhoni. 

Menurut Jhoni, Partai Demokrat di bawah kepemimpinan AHY saat ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. 

"Oleh karena itu, AHY selaku ketua umum tidak tahu cara turun gunung sehingga bapaknya, SBY yang saya hormati turun gunung. Inilah yang disebut krisis kepemimpinan," bebernya. 

Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat yang juga Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), akhirnya buka suara terkait upaya kudeta di tubuh Partai Demokrat. 

Pidato SBY itu disampaikan saat memberikan pengarahan kepada pimpinan dan seluruh kader Partai Demokrat pada Senin, 22 Februari 2021. 

Video arahan SBY itu diunggah pada Kamis (24/2/2021) oleh sejumlah kader Demokrat. 

Di awal pidatonya, SBY menyampaikan terima kasih kepada kader Demokrat yang setiap bersama Demokrat baik dalam suka dan duka. 

Kader yang setia itu, kata SBY, bukanlah kader yang mengganggu partai atau bahkan berkhianat. 

"Kader yang tidak mengganggu, membuat masalah dan bahkan berkhianat. Bukan kader atau mantan kader yang ingin menjual partai kita demi imbalan uang dan kedudukan," ujar SBY. 

SBY bahkan bersumpah, dirinya akan tetap menjadi kader Partai Demokrat dan siap menjadi benteng untuk menghadapi siapapun yang hendak mengganggu Partai Demokrat.

"Insya Allah sepanjang hayat dikandung badan, saya akan tetap menjadi kader Partai Demokrat dan akan menjadi benteng dan bhayangkara partai ini menghadapi siapapun yang mengganggu, merusak, merebut dan menghancurkan partai kita. Ini sumpah saya. Sumpah dan kesetiaan saya di hadapan Tuhan YME," tegasnya. 

SBY kemudian menyinggung secara spesifik soal upaya kudeta terhadap kepemimpinan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). 

Merespons updaya kudeta itu, mantan Ketua Umum Partai Demokrat itu menegaskan Partai Demokrat tidak untuk dijual. 

"Bagi orang luar yang punya ambisi untuk merebut dan membeli partai Demokrat saya katakan dengan tegas dan jelas Partai Demokrat nor for sale. Partai kami bukan untuk diperjualbelikan meskipun Partai Demokrat bukan partai yang kaya raya dari segi materi, kami tidak tergiur dengan uang Anda berapapun besarnya," ujarnya. 

SBY menyebut, gerakan kudeta oleh pejabat penting di Pemerintahan Jokowi itu bakal digunakan untuk pencalonan Pilpres 2024. 

"Saya tidak percaya orang luar yang hendak mendongkel kepemimpinan Partai Demokrat dan kebetulan memiliki jabatan penting di pemerintahan itu sungguh mencintai partai. Yang dia inginkan hanya kekuasaan semata. Kekuasaan yang hendak digunakan untuk maju Pilpres 2024," ucapnya. 

SBY kemudian mengapresiasi langkah AHY yang merespons cepat upaya kudeta itu termasuk dengan mengirim surat ke Presiden Jokowi. 

Ia juga secara jelas menyebut nama Kepala Staf Presiden Moeldoko. 

"Secara pribadi, saya sangat yakin bahwa yang dilakukan Moeldoko adalah di luar pengetahuan Presiden jokowi. Saya juga yakin Jokowi punya integritas yang jauh berbeda dengan perilaku pembantu dekatnya itu," ujarnya. 

SBY mengatakan apa yang dilakukan Moeldoko telah mengganggu dan merugikan nama baik Jokowi. 

SBY juga meyakini, sejumlah pejabat di Kabinet Jokowi yang disebut-sebut terlibat hanyalah klaim semata. 

"Partai Demokrat meyakini yang dilakukan Moeldoko itu sangat mengganggu dan merugikan nama baik beliau. Sementara itu, saya juga punya keyakinan bahwa nama Menkopolhukam Mahfud MD, dan Menkumham Yasonna Laoly juga dicatut namanya."

"Demikian juga nama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan KaBIN Jenderal Budi Gunawan yang juga disebut-sebut namanya. Partai Demokrat tetap percaya bahwa para pejabat tersebut memiliki integritas, betul-betul tidak tahu menahu dan tidak masuk diakal mengganggu Partai Demokrat," bebernya. 

Dalam pidatonya, SBY juga merespons pernyataan Mensesneg Pratikno yang menyebut apa yang terjadi di internal Demokrat sebagai persoalan internal.

SBY menyatakan, gerakan kudeta itu bukanlah persoalan internal karena melibatkan orang luar yaang merupakan pejabat penting di pemerintahan Jokowi. 

Meski sudah diungkap, lanjut SBY, gerakan kudeta itu tidak berhenti. 

"Setelah diungkap, apakah pelaku gerakan mengentikan gerakannya? Ternyata tidak. Saya telah mendapat laporan resmi dari pimpinan partai dan juga mendapatkan informasi dari daerah bahwa segelintir kader dan mantan kader pelaku gerakan itu masih bergerak di lapangan. Sembunyi-sembunyi, kucing-kucingan," ujar dia. 

Karena itu, lanjut SBY, dirinya menyatakan bakal turun gunung untuk menghentikan gerakan itu. 

"Itulah sebabnya, meskipun sejak Kongres 2020 lalu saya tidak aktif lagi dalam kegiatan sehari-hari partai namun kali ini, menghadapi gerakan ini sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai saya harus turun gunung," ungkapnya.

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Andi Arief Tegaskan KLB Harus Dapat Izin SBY dan Jhoni Allen setelah Dipecat dari Demokrat: SBY Tidak Berkeringat Sama Sekali, Apalagi Berdarah-darah

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

Baca Juga

COMMENTS