Ini Fatwa Etik Dokter dalam Menggunakan Media Sosial yang Diterbitkan MKEK IDI | 3.590 Nakes di Kota Pekalongan Telah Didaftarkan Jadi Penerima Vaksin Covid-19 | Sebelum Corona, Ilmuwan Hingga Kini Belum Berhasil Temukan Vaksin HIV | PSIS Kembali ke Stadion Jatidiri, Sinoeng: Akan Segera Diverifikasi LIB | Kronologi 2 Terduga Teroris JAD Tewas Tertembak di Makassar, Belasan Lainnya Ditangkap | Chord Kunci Gitar Sampai Kapan Ziva Magnolya | Hasil Liga Inggris Tadi Malam Everton Vs Leicester City, The Foxes Tumbang | Tips Menyikapi Wabah Corona Covid-19 ala Dokter Amalia Desiana | Catatan Shin Tae-yong untuk Timnas U19 Indonesia, Stamina Pemain Buruk Tak Bisa Bertahan 90 Menit | Cerita Misli Ungkap Pembunuhan Ayah Kandung oleh Anaknya Sendiri, Dikubur di Bawah Mushola Rumah | AHY Surati Presiden Soal Kudeta Partai Demokrat, Moeldoko: Jangan Ganggu Pak Jokowi | VIRAL Jemaah Diusir dari Masjid karena Pakai Masker, Guntur Romli: Polisi Bisa Proses Tanpa Aduan | Hasil Liga Italia Tadi Malam Juventus Vs Lazio, Dua Gol Ronaldo Bikin Lazio Melongo | Chord Kunci Gitar Aku Milikmu - Dewa 19 | VIDEO: Detik-detik Ibu-ibu Terpelanting Dijambret Terekam CCTV, Pelaku Pakai Modus Tanya Alamat | Hasil Balapan MotoGP Virtual Race 2020 Seri Kedua, Francesco Bagnaia Juara, Rossi Jatuh Berkali-kali | Sinopsis Forbidden Kingdom Bioskop Trans TV Malam Ini, Tayang Jam 21.00 WIB | Kurs Rupiah Terhadap Dolar di 2020 Mendatang Diperkirakan di Kisaran Rp 14.400 | Jadwal Pelayanan Samsat Keliling Kabupaten Batang, Selasa 10 Maret 2020 |

Anda sedang membaca Ini Fatwa Etik Dokter dalam Menggunakan Media Sosial yang Diterbitkan MKEK IDI - JATENGKOTA mohon pertahankan, kami selalu update berita terbaru hari ini singkat, padat dan terpercaya.

Ini Fatwa Etik Dokter dalam Menggunakan Media Sosial yang Diterbitkan MKEK IDI


Oleh : JATENGKOTA | on Sabtu, 1 Mei 2021 17:32 WIB
Ini Fatwa Etik Dokter dalam Menggunakan Media Sosial yang Diterbitkan MKEK IDI

JATENGKOTA, JAKARTA - Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menerbitkan fatwa etik terkait aktivitas dokter di media sosial.

Dalam keterangan resmi yang diterima JATENGKOTA pada Sabtu (1/5/2021), ada 13 poin yang mengatur dokter saat beraktivitas di media sosial

Ketua MKEK IDI Pukovisa Prawiroharjo menuturkan, fatwa tersebut bersifat mengikat bagi seluruh tenaga medis di Indonesia.

"Fatwa etik kedokteran ini mengikat seluruh dokter di Indonesia. MKEK semua tingkatan agar melakukan sosialisasi. MKEK berwenang melakukan klarifkasi terhadap suatu infomasi dugaan pelanggaran etik, pembinaan, dan atau proses kemahkamahan pada Dokter Indonesia yang tidak sesuai dengan isi fatwa," ujar Pukovisa.

MKEK Pusat IDI membuka diri terhadep ide dan masukan terkait fatwa yang
diterbitkan untuk evaluasi dan penyempumaan di masa mendatang.

Dalam fatwa etik dokter dalam aktivitas media sosial, dokter harus sepenuhnya menyadari sisi positif dan negatif aktivitas media sosial dalam keseluruhan upaya kesehatan dan harus menaati peraturan perundangan yang berlaku.

Dokter selalu mengedepankan nilai integritas, profesionalisme, kesejawatan, kesantunan, dan etika profesi pada aktivitasnya di media sosial.

Penggunaan media sosial sebagai upaya kesehatan promotif dan preventif bernilai etika tinggi dan perlu diapresiasi selama sesuai kebenaran ilmiah, etika umum, etika profesi, serta peraturan perundangan yang berlaku.

Penggunaan media sosial untuk memberantas hoax, informasi keliru terkait
kesehatan/kedokteran merupakan tindakan mulia selama sesuai kebenaran
imiah, etika umum, etika profesi, serta peraturan perundangan yang berlaku.

Dalam upaya tersebut, dokter harus menyadari potensi berdebat dengan masyarakat.

Dalam berdebat di media sosial dokter perlu mengendalikan diri tidak membalas dengan keburukan, serta merjaga marwah luhur profesi kedokteran.

Apabila terdapat pernyataan yang merendahkan sosok dokter, tenaga kesehatan, maupun profesi organisasi, profesi dokter/kesehatan, dokter harus melaporkan hal tersebut ke otoritas media sosial melalui fitur yang disediakan dan langkah lainnya sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Kelima, pada penggunaan media sosial, dokter harus menjaga diri dari promosi diri berlebihan dan praktekrnya serta mengiklakan suatu produk dan jasa sesuai dengan SK MKEK Pusat IDI No 022/PB/K.MKEK/07/2020 tentang
Fatwa Etika Dokter Beriklan dan Berjualan Multi Level Marketing yang diterbitkan MKEK Pusat IDI tanggal 28 Juli 2020.

Keenam, penggunaan media sosial untuk tujuan konsultasi suatu kasus
kedokteran dengan dokter lainnya, dokter harus menggunakan jenis dan
fitur media sosial khusus yang terenkripsi end-to-end dan tingkat keamanan
bak, dan memakai jalur pribadi kepada dokter yang dikonsultasikan
tersebut atau pada grup khusus yang hanya berisikan dokter.

Lalu, pada penggunaan media sosial termasuk dalam hal memuat gambar, dokter wajib mengikuti peraturan perundangan yang berlaku dan etika profesi.

Gambar yang dimuat tidak boleh membuka secara langsung maupun tidak langsung identitas pasien, rahasia kedokteran, privasi pasien/keluarganya,
privasi sesama dokter dan tenaga kesehatan, dan peraturan internal
RS/klinik.

Dalam menyampaikan kondisi klinis pasien atau hasil pemeriksaan
penunjang pasien untuk tujuan pendidikan, hanya boleh dilakukan atas
persetujuan pasien serta identitas pasien seperti wajah dan nama yang
dikaburkan.

Hal ini dikecualikan pada penggunaan meda sosial dengan
maksud konsultasi suatu kasus kedokteran sebagaimana yang diatur pada
poin 6.

Kemudian, pada penggunaan media sosial dengan tujuan memberikan edukasi kesehatan bagi masyarakat, sebaiknya dibuat dalam akun terpisah dengan akun pertemanan supaya fokus pada tujuan.

Bila akun yang sama digunakan untuk pertemanan, maka dokter harus memahami dan mengelola ekspektasi masyarakat terhadap profesi kedokteran.

Kesembilan, penggunaan media sosial dengan tujuan edukasi imu kedokteran dan kesehatan yang terbatas pada dokter dan atau tenaga kesehatan hendaknya menggunakan akun terpisah dan memilah sasaran informasi khusus dokter/tenaga kesehatan.

Kesepuluh, penggunaan media sosial dengan tujuan pertemanan, dokter dapat bebas berekspresi sebagai hak privat sesuai ketentuan etika umum dan peraturan perundangan yang berlaku dengan memilith plattorm media sosial yang diatur khusus untuk pertemanan dan tidak untuk dilihat publik.

Dokter perlu selektif memasukkan pasiennya ke daftar teman pada akun
pertemanan karena dapat mempengaruhi hubungan dokter-pasien.

Dokter dapat membalas dengan baik dan wajar pujian pasien/masyarakat atas pelayanan medisnya sebagai balasan di akun pasien/ masyarakat
tersebut.

Namun sebaiknya dokter menghindari untuk mendesain pujian
pasien/ masyarakat atas drinya yang dikirim ke pubik menggunakan akun
media sosial dokter sebagai tindakan memuji diri secara berlebihan.

Terakhir, pada kondisi di mana dokter memandang aktivitas media sosial sejawatnya terdapat kekeliruan, maka dokter harus mengingatkannya melalui jalur pribadi.

Apabila dokter tersebut tidak bersedia diingatkan dan memperbaiki perilaku aktivitasnya di media sosial, maka dokter dapat melaporkan kepada MKEK 

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

Baca Juga

COMMENTS